Dialita, Suara yang Mengalun sampai Jauh

Eko Agus Purnomo, seorang sopir taksi. Melalui perjumpaan tak sengaja dengan salah satu anggota Paduan Suara Dialita, ia kemudian berbincang, di dalam taksi yang dikemudikannya. Eko yang bisa bermain musik, kemudian diajak untuk mengiringi lagu Dialita karena ketika itu Dialita belum ada pemusik yang bisa mengiringi.

“Ibu-ibu Dialita ini adalah para perempuan hebat, sudah tua tapi tetap berjuang. Dulu setelah berbincang di taksi itu, saya langsung dicari di kantor saya, di pool taksi. Akhirnya ketemu lagi,” kata Eko.

Jadilah kemudian Eko bermain piano dan gitar untuk Dialita. Pertama mengiringi Dialita, ia bermain di acara Rabu Perempuan yang diselenggarakan oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan . Rabu Perempuan adalah acara diskusi berdonasi untuk perempuan. Itu semua terjadi kira-kira 4 tahun lalu. Sejak itu Eko sering mengiringi pementasan-pementasan Dialita.

Eko Agus Purnomo, sampai saat ini masih berprofesi sebagai sopir taksi. Ia muncul dalam launching kedua Dialita pada 31 Januari 2019 lalu di Jakarta. Cerita ini dipaparkannya di atas panggung, yang disambut pekik penonton. Acara ini seperti reuni antara Dialita dan Eko.

Cerita Eko menandakan bagaimana Dialita kemudian dalam wadah paduan suara sudah berhasil mengajak banyak kalangan untuk memberikan dukungan, kolaborasi. Begitu juga pada anak-anak muda.

Sejumlah panitya yang diisi oleh anak-anak muda juga menandakan kekuatan Dialita dalam menyebarkan cerita melalui lagu.

Peluncuran yang diadakan Dialita dan Rumah Bonita dengan didukung Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Program Peduli, Komnas Perempuan dan Sri Kendes ini juga menunjukkan makin konsistensinya sebuah musik, dalam memberikan harapan bagi para perempuan korban. Tak pernah menyerah untuk menyanyikan tentang keterasingan yang pernah dialami.

Dialita, paduan suara yang berdiri sejak akhir 2011 dan beranggotakan ibu-ibu penyintas (survivor) yang berasal dari keluarga mantan Tahanan Politik (Tapol) dari peristiwa 1965.

Acara peluncuran album tersebut dibuka oleh Anna Maria Strauss dari Goethe Institute. Dalam pidato pembukaannya, Anna Maria Strauss mengatakan bahwa dengan bernyanyi, Dialita telah menjadi penghubung lintas generasi.

“Dialita merupakan contoh paling mengagumkan dari sebuah komunitas bernyanyi yang mencerminkan kekuatan sosial, pencatatan sejarah, dan generasi masa depan,” kata Anna Maria Strauss.

Suara keterasingan yang kemudian menjadi harapan, akhirnya menjadi suara yang tak hentinya memberikan semangat bagi para pengunjung yang datang. Paduan suara ini menyanyikan kegairahan ini dalam lagu-lagu yang dinyanyikan. Lagu-lagunya makin rancak dan riang gembira.

Dinamakan Dialita karena anggotanya telah berusia lebih dari 50 tahun, yang bila disingkat menjadi: DI Atas Lima puluh Tahun (Dialita).

Hingga kini, Dialita terus menyanyikan lagu-lagu yang diciptakan oleh mereka yang dipenjara pada masa itu dan melakukan aksi sosial kemanusiaan bagi sesama keluarga penyintas maupun bagi kelompok-kelompok lain yang membutuhkan. Lagu.

Di albumnya kali ini, sejumlah lagu merupakan ciptaan ibu-ibu Tapol semasa dalam penjara di penjara Bukit duri Jakarta dan Semarang. Beberapa lagu yang dinyanyikan dalam acara peluncuran antara lain, Tetap Senyum Menjelang Fajar, Mawar Merah, Ibu, Aku Percaya, dan Tani Menggugah Hati.

DIALITA, kini sudah melahirkan 2 album, yang pertama “Dunia Milik Kita” dirilis pada 2016 dalam format digital dan cakram padat. Sementara, album kedua “Salam Harapan”, yang digawangi oleh Rumah Bonita dengan menggandeng delapan orang musisi dan enam penyanyi solo, yakni Bonita, Endah Laras, Endah Widiastuti, Junior Soemantri, Kartika Jahja dan Sita Nursanti di bawah Pimpinan Produksi Musik Petrus Briyanto Adi.

“Salam Harapan” memiliki keunikannya tersendiri. Bersama dengan para musisi muda, ada kejutan dari komposisi musik yang berwarna dan apik, pilihan 12 lagu dalam album, kualitas bernyanyi secara padu, dan, terutama, keterlibatan dari para musisi dan penyanyi handal yang rekam jejaknya sudah terbukti.

Layaknya semangat sinar yang bergelora, album ini seperti diungkapkan salah satu personil Dialita, Irina Dayasih merupakan kumpulan karya penuh harapan. Tepatnya 12 lagu “Salam Harapan”adalah kristalisasi dari segala pengharapan, dan doa bagi para penulisnya selagi menjalani kurungan sebagai tahanan politik di penjara Bukit Duri, Jakarta hingga Plantungan, Semarang.

“Pembuatan album ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan lagu-lagu bersejarah agar tak hilang, sebagaimana banyak bangunan penjara atau kamp-kamp pembuangan yang sudah tak ada jejaknya lagi,” kata Irina Dayasih.

Di samping itu, Uchi Kowati sebagai Ketua Dialita juga melihat album ini sebagai sebuah kolaborasi karya antara kelompok perempuan dan musisi-musisi muda.